Kamis, 14 Agustus 2008

Perintis Lingkungan

Perintis Lingkungan:
THERESIA MIA TOBI
Rt. 13/RW 06, Dusun Bawalatang, Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur

Gaharu, potong satu tanam seribu
Seperempat abad yang lalu, gaharu (Aquilaria spp) banyak dijumpai dan tumbuh nyaris tanpa gangguan di hutan Indonesia. Gubal atau getah gaharu mengandung damar wangi (aromatic resin) sebagai bahan baku berbagai jenis wewangian seperti dupa atau hio, parfum, dan obat tradisional. Inilah yang kemudian mendorong perburuan gaharu secara besar-besaran sejak tahun 1970-an untuk diekspor ke luar negeri.

Di saat itu, terjadi pula penebangan sia-sia, artinya banyak pohon gaharu yang tidak mengandung gubal ditebang dan mati. Akibatnya, 10-15 tahun kemudian tanaman gaharu di Indonesia semakin langka dan terancam punah, keadaan ini diperparah dengan belum dikenalnya teknik budi daya gaharu oleh masyarakat.

Di dusun Bawalatang, desa Nawakote, Kecamatan Walanggitan, kabupaten Flores Timur yang lahannya bergelombang, berbukit dan di sana-sini terjal, seorang ibu rumah tangga, Theresia Mia Tobi mempunyai perhatian besar dan meluangkan waktunya untuk melakukan budi daya gaharu. Usahanya dilakukan sejak tahun 1993 mulai dari pembibitan dan penangkaran, penanaman dan perawatan. Ibu Theresia melakukan ini dengan hati yang ikhlas dengan maksud untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, sekaligus ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk selalu wajib menyintai lingkungan.

Dengan dukungan keluarga, orang tua dan dibantu anggota kelompok dani serta aparat desa, Ibu Theresia tanpa kenal lelah menggerakkan dan memberdayakan masyarakat melalui penanaman pohon dengan semboyan ”bila satu pohon ditebang, akan diganti dengan penanaman seribu pohon”. Kepercayaan masyarakat kepada Ibu Theresia dapat diukur dari keikutsertaan seluruh warga Desa Nawakote kemudian melakukan pembitan, penangkaran dan penanaman gaharu di pekarangan rumah maupun areal hutan.

Karena ternyata mendatangkan nilai ekonomis yang cukup banyak, Ibu Theresia Mia Tobi kemudian membagikan tidak kurang dari 11.000 bibit gaharu kepada masyarakat Desa Nawakota, Yayasan Tana Abab, Kelompok Tani Nelayan Watebula Sumba Barat, Yayasan Yaspensel Diosis Larantuka, Kelompok Tani Taw Tana, Uskup Weetebula, Mantan Bupati Flores Timur, Drs. Hendrikus Henkin, dan Kelompok Tani Gaharu di Kemaebang Desa Nawakota.
Dengan segala keterbatasannya, Ibu Theresia juga menanam berbagai tanaman kayu-kayuan seperti mahoni, ampupu, gamalina, selain tanaman perkebunan seperti ciklat, vanili, kemiri, kelapa, pisang, dan lain-lain.

Penanaman berbagai komoditas mencakup 3 hektar di areal sekitar permukiman, dan penghijauan telah menjadikan asri dan sejuk 30 hektar lahan kritis di Desa Nawakote, Kecamatan Walanggitan, Kabupaten Flores Timur.

Karena prestasi dan popularitasnya, Ibu Theresia Mia Tobi sering diminta menjadi pembicara atau nara sumber pada berbagai pertemuan dan sosialisasi yang berkaitan dengan gaharu. Tidak hanya di tingkat desa, permintaan itu juga datang dari Kecamatan, Kabupaten Flores Timur, Dinas Kehutanan, Bappeda dan berbagai kelompok tani di Kabupaten Flores Timur.

Tidak ada komentar: